Minggu, 27 Maret 2011

Sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang banyak memberi manfaat bagi orang lain !!!

Alhamdulillah guys, saat ini Allah dengan Rahmatnya masih mengizinkan kepada kita untuk saling menyapa walau hanya dengan tulisan, saling menasihati meski via blog, dan saling berkasih sayang walaupun tak kenal satu sama lain. Ya itulah nikmatnya hidup dalam kebaikan, nyamannya hidup dalam naungan islam. Intinya fastabihul khairot alias berlomba-lomba dalam kebaikan.

Di edisi tulisan kali ini saya ingin mengutip sebagian cerita menarik mengenai peristiwa dahsyat yang mungkin sudah begitu akrab telinga kita belakangan ini dan telah menjadi headline di beberapa media cetak maupun elektronik, dalam dan luar negeri. Yes, tak lain dan tak bukan adalah kabar tentang musibah gempa dan tsunami yang terjadi di Jepang beberapa pekan yang lalu. Bencana itu telah menghancurkan sebagian wilayah jepang dan tercatat hingga saat ini korban tewas sudah mencapai 1000 orang, serta ratusan ribu warga lainnya mengungsi. Namun tak disangka kawan, kesulitan tak berhenti sampai disana, akibat terjangan gempa tsunami nan dahsyat sebuah PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) Fukushima Daichi di provinsi Miyagi jepang rusak. Parahnya lagi sebagian dari reaktor nuklir di PLTN tersebut pun ikut mengalami gangguan terutama pada bagian alat pendingin reaktor yang 99% rusak berat akibat hantaman badai tsunami. The impact had been seen, suhu di dalam reaktor menjadi sangat tinggi dan komponen-komponen nuklir yang terkandung pun menjadi tak stabil dan ini jelas-jelas menjadi ancaman yang amat sangat serius tidak hanya bagi negeri jepang tetapi bagi dunia. Betapa tidak, jika kondisi krisis ini tidak segera di antisipasi secara tepat dan cepat, maka radiasi dari bahan-bahan radioaktif akan menghantui seluruh warga dunia termasuk Indonesia. Bahkan saat ini korban jiwa yang tewas akibat rusaknya reaktor nuklir Fukishima Daichi telah memasuki angka 10 orang yang semuanya merupakan para pekerja yang saat kejadian sedang berusaha untuk memadamkan serta memperbaiki alat pendingin yang menjadi instrumen penting pada reaktor nuklir. Ada sebuah kisah menarik mengenai usaha sekelompok masyarakat negeri matahari terbit itu guna menyelamatkan sekaligus meminimalisir dampak radiasi nuklir yaitu yang dikenal dengan Rangers of Fukushima 50. Apa dan siapa sebetulnya Rangers of Fukushima 50? Dan apa hubungannya dengan misi penyelamatan reaktor nuklir? Mari kita simak kisah dan fakta selengkapnya.

SEBUAH pesan dikirimkan seorang pekerja PLTN Fukushima Daii-chi kepada keluarganya. Isinya, "Kami sedang melakukan misi bunuh diri. Kami menerima nasib ini seperti menerima hukuman mati." Pesan itu dikirimkan dari daerah yang paling tinggi level radiasinya, di pusat radiasi. Pengirimnya salah seorang pahlawan Fukushima 50. Fukushima 50 adalah pekerja Fukushima Daiichi yang dengan sukarela tinggal di dalam PLTN dengan satu tekad menyelamatkan reaktor! Risikonya adalah nyawa mereka atau setidak-tidaknya menderita penyakit mengerikan hingga akhir hayatnya. Upaya penyelamatan itu sudah merenggut lima nyawa. Yang ada di benak mereka adalah bagaimana kalau reaktor itu meledak dan radiasi nuklir tersebar ke berbagai penjuru dunia. Mereka memilih untuk mengorbankan dirinya untuk sebisa mungkin menyelamatkan jumlah manusia yang lebih banyak lagi.
Perdana Menteri Jepang Naoto Kan menyebut mereka pahlawan, yang bahkan tidak berpikir dua kali" mengenai bahayanya.
Pasalnya, mereka tidak mementingkan keselamatan nyawanya sendiri. Mereka sesungguhnya pahlawan buat dunia, bukan buat Jepang saja. "Kalian satu-satunya yang dapat membantu mengatasi krisis saat ini," kata Kan memuji Fukushima 50.

Di dalam reaktor, mereka berupaya menyalakan gudang sistem pendingin reaktor dengan mengenakan baju pelindung yang menurut para ahli, hanya bisa mencegah sedikit kontaminasi. Apalagi tingkat radiasinya sudah mencapai skala enam dari tertinggi skala tujuh, mendekati bencana Chernobyl 25 tahun lalu. Fukushima 50 terdiri atas teknisi garis depan dan para pemadam kebakaran yang tahu persis kondisi PLTN. Keberadaan mereka di pusat radiasi itu semula tidak diketahui. Sekitar 750 karyawan PLTN memang sudah dievakuasi dari sana. Orang mengira tak ada yang tinggal di sana. Keberadaan mereka mulai terungkap setelah media setempat menyiarkan wawancara dengan kerabatnya. Seorang kerabat sukarelawan Fukushima 50 mengatakan, ayahnya yang sudah berusia 59 tahun menjadi sukarelawan dan memilih tetap tinggal di Fukushima. "Saya dengar dia merelakan diri meskipun 1,5 tahun lagi akan memasuki masa pensiun Mendengar itu, saya menangis," kata perempuan yang tidak disebutkan identitasnya seperti dimuat Daily Mail, Jumat (18/3).
"Di rumah, ayah tidak seperti seorang lelaki yang bisa menangani pekerjaan besar dan penting, tetapi hari ini saya sangat bangga. Saya berdoa agar dia bisa kembali dengan selamat," katanya lagi. Seorang gadis dengan cemas menanti kabar ayahnya Dia menceritakan tak pernah melihat ibunya menangis sedemikian hebat "Orang-orang di reaktor sedang berjuang mengorbankan hidup mereka untuk melindungi kami semua. Ayah, kumohon, kembalilah dengan selamat" tulis gadis itu di akun Twitterya.
"Masa depan reaktor nuklir bergantung pada bagaimana kami mengatasi krisis ini. Saya lora, ini adalah misi saya untuk menolong," kata seorang sukarelawan kepada anak perempuannya.
"Mereka mengorbankan diri mereka sendiri untuk warga Jepang. Saya mengucapkan terima kasih yang amat sangat kepada mereka yang meneruskan kerjanya di sana," kata Fu-kuda Kensuke, seorang pekerja kerah putih di Tokyo.
"Mereka menempatkan hidupnya di garis yang tepat Jika tempat itu meledak, itu adalah akhir kami semua. Jadi, apa yang bisa saya lakukan adalah mendorong mereka," kata Maeda Akihiro.

Apa yang dilakukan Fukushima 50 adalah berat bagi keluarganya yang duduk dan menunggu kabar di rumah. Mereka tak tahu apa bahaya yang tengah dihadapi orang yang dicintainya, cacat apa yang bakal dideritanya, dan masalah apa yang akan dihadapi dalam beberapa tahun mendatang. "Saya tak ingin dia pergi. Akan tetapi, dia sudah bekerja di industri nuklir sejak umur 18 tahun dan dia percaya, itu aman," kata istri salah seorang anggota Fukushima 50. Menurut Michiko Otsuki, karyawan Tepco (pengelola PLTN Fukushima), saat reaktor No. 2 hancur diterjang tsunami, semua orang bekerja mati-matian untuk memperbaikinya. "Kami memaksa diri untuk terus bekerja melawan rasa lelah dan perut kosong," kata Michiko. Mereka juga bekerja dalam ketidakpastian nasib keluarganya di rumah.

The New York Times melaporkan, para pekerja itu merupakan kelompok terakhir yang dipertahankan di PLTN Fukushima Daiichi. Dengan bermodalkan senter, mereka memantau perkembangan terkini, seperti ledakan hidrogen yang telah terjadi berkali-kali sambil mencari cara agar perangkat inti PLTN tidak ikut hancur. Jika itu terjadi, akibatnya fatal. Zat radioaktif bisa menyebar dalam skala besar. Kini, jumlah Fukushima 50 itu bertambah menjadi 180 orang. Pengorbanan Fukushima 50 ini sungguh luar biasa. Pasalnya, saat banyak orang memilih pergi sejauh mungkin dari kawasan nuklir, mereka justru berada sangat dekat dengan tempat berbahaya itu. Total lima belas orang mati akibat ledakan reaktor nuklir di PLTN Fukushima. Salah seorang ahli nuklir kepada televisi NHK mengatakan, keadaan di PLTN Fukushima sangat mengerikan dan berbahaya. Tingkat radiasi sebesar 100 mSv perjam saja akan menyebabkan terjadinya kemandulan kepada pria. Sementara para pekerja Fukushima 50 sudah tinggal di sana lebih dari 12 jam per harinya.

Apa yang dilakukan Fukushima 50 tidak dapat dinilai dengan uang atau materi lainnya. Apalagi kita semua saat ini bergantung kepada mereka. Dukungan terus diberikan kepada mereka, baik melalui doa maupun ucapan via media sosial seperti Facebook dan Twitter. "Mereka adalah orang-orang terhormat. Jika Hadiah Nobel merupakan penghargaan tertinggi di dunia ini, Fukushima 50 layak mendapatkan itu," tulis salah satu akun di Twitter. Tentu saja, Fukushima 50 layak untuk menjadi pahlawan dunia. Mereka bukan tokoh heroik rekaan seperti Superman dan Batman. Mereka lebih hebat dari semua pahlawan yang pernah diciptakan. Mereka adalah tokoh nyata yang punya istri, anak, kekasih, binatang peliharaan yang harus ditinggalkan demi menjalankan tugas kemanusiaan luar biasa, menyelamatkan dunia dari ancaman radiasi nuklir.

Kisah yang sangat mengharukan bukan?. Jiwa rela berkorban yang ditamengi rasa penuh tanggung jawab dan dipersenjatai oleh keberanian telah membuat Fukushima 50 layak diberi gelar pahlawan kendatipun hal tersebut pasti bukanlah motivasi yang melatarbelakangi aksi kepahlawanan mereka. Sebab ini lah mungkin yang dikatakan sebagai “bekerja dengan hati”. Ya seriously !!!

Kejadian di atas benar-benar memberikan banyak hikmah dan membuka pikiran saya bahwa dalam menjalani hidup dibutuhkan suatu effort yang kuat dan keberanian yang keras. Rasullullah pun menyatakan jika “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah SWT dari pada mukmin yang lemah dalam setiap amal kebaikan” (HR. Muslim). Oleh karena itu, sudah selayaknya saya harus menjadi mukmin yang kuat agar di hidup yang singkat ini, saya mampu memberi manfaat bagi banyak orang. Kemudian sikap rela berkorban dan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi manusia yang bisa bermanfaat bagi banyak orang, secara konstruktif harus betul-betul tercermin dalam jiwa dan raga kita sekalian tanpa terkecuali. Sebab hanya mereka yang selalu melakukan hal konkrit bagi lingkungannya lah yang akan terus dikenang sebagai seorang pahlawan. “sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang banyak memberi manfaat bagi orang lain”. Elemen penting lain yang saya dapatkan dari kisah tersebut adalah bahwa dalam berbuat suatu kebaikan jangan sampai didasari atas keinginan untuk dipuji apalagi dilihat oleh orang lain. Hal itulah yang begitu haru dan apik dicontohkan oleh Fukishima 50. Mereka rela terus-menerus bekerja serta memantau aktivitas reaktor nuklir meskipun masyarakat atau pemerintah setempat tidak tahu-menahu perihal keberadaan mereka di daerah rawan radiasi itu. Setelah sekian lama barulah diketahui bahwa ternyata masih ada para pekerja yang masih melakukan tindakan antisipatif di area berbahaya tersebut, AMAZING !!! Ya entah mengapa lagi-lagi saya merasa diingatkan oleh Allah SWT, sebagai seorang muslim sudah semestinya kami melakukan hal yang sedemikian, bukannya malah berlomba-lomba berbuat kebajikan supaya keliatan bagus didepan bos, atasan, pacar, sampe tunangan. Wuhh weleh-weleh. Padahal Rasulullah SAW pun telah bersabda “beribadahlah (berbuat kebajikan) seolah-olah kalian melihat Allah SWT, jika kalian tidak melihat dan niscaya pasti kalian tidak akan mampu maka yakinlah bahwa Allah SWT melihat perbuatan kalian”. Dari sini kita harus yakin bahwa cukuplah Allah yang menjadi saksi atas segala perbuatan yang kita lakukan. Bagi kawan-kawanku janganlah kalian ragu untuk berbuat baik walaupun hal yang kalian lakukan hanya sesuatu yang kecil. Biarkan orang lain menganggap aneh atas perbuatan yang kau perbuat. Karena boleh jadi di masa yang akan datang mereka akan terpanah melihat kesuksesan dan kepahlawananmu. Berusahalah untuk menjadi pahlawan serta melakukan hal terbaik dimanapun engkau berada. Jika saat ini kalian berada di rumah jadilah pahlawan dan anak terbaik bagi kedua orang tuamu. Jika sedang bersama sahabat-sahabatmu jadilah pahlawan dan sahabat terbaik bagi mereka. Jika kalian adalah seorang pemimpin jadilah pahlawan dan pemimpin terbaik bagi semua staf-stafmu. Atau jika sekarang kalian masihlah seorang bawahan maka jadilah pahlawan dan bawahan terbaik bagi keberhasilan pemimpinmu. Ya pada intinya do the best everywhere and everytime. Ketahuilah wahai saudaraku bahwa “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada sosokmu dan hartamu tetapi Dia akan melihat kepada hatimu dan amalanmu”.

Demi Allah yang jiwaku berada dalam genggamaNya, semoga tulisan ini mampu mengoreksi diri saya pribadi khusunya dan kita semua pada umumnya bahwa ternyata masih banyak perilaku-perilaku serta sifat-sifat buruk yang harus diperbaiki dan mudah-mudahan dapat memotivasi kita agar senantiasa bersemangat untuk memberikan kontribusi aktif, solutif nan kreatif bagi kejayaan umat, bangsa, dan negara. Janganlah takut apalagi bersedih hati kawan, karena Allah SWT pasti memberikan jalan dan petunjuknya selama kita do the best dan yakin akan rahmatNya. Yang pasti tetap berjuang dan terus berusaha melakukan hal terbaik, ngga apalah meski cuma hal sederhana yang penting ridha Lillahi ta’ala, hehe. Seperti firman Allah SWT “ Sesungguhnya yg paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yg paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Melihat lagi Maha Mengenal.” (QS Al hujurat 13)

Mohon maaf jika di dalam tulisan ada pikiran atau pendapat yang salah, Wallahu’alam Bis Shawab.

Thank you very much !!!!

Rabu, 23 Maret 2011

Tata Tertib MAI 2011

MAI (Mentoring Al Islam) Crew proudly present & announce the general rule of MAI 2011, Faculty of Pharmacy Padjadjaran University:

1.KEHADIRAN
a. Kegiatan MAI dimulai pada pukul 15.30 s/d selesai.
b. Peserta diwajibkan hadir tepat waktu.
c. Jumlah ketidakhadiran maksimal 1 kali dengan melakukan mekanisme izin yang telah ditentukan oleh panitia.

2.MEKANISME IZIN
2.1 Izin Ketidakhadiran
a. Peserta yang tidak hadir baik karena alasan sakit ataupun lainnya wajib memberi konfirmasi kepada panitia selambat-lambatya 30 menit sebelum acara dimulai.
b. Peserta yang tidak hadir karena sakit diharapkan mampu menyerahkan surat keterangan sakit dari dokter, orang tua, maupun penanggung jawab tempat tinggal (kos-kosan) sebagai bukti otentik demi kepentingan berikutnya.
c. Konsekuensi ketidakhadiran sebagai berikut..
•Diwajibkan membuat resume materi yang ditinggalkan dan dikumpulkan pada pertemuan selanjutnya kepada panitia.

2.2 Izin Keterlambatan.
a. Peserta yang berhalangan hadir tepat waktu harap diikhtiarkan untuk melakukan konfirmasi selambat-lambatnya 30 menit sebelum kegiatan dimulai kepada panitia ( Ikhwan : Andy Muhammad Fauzi, Akhwat : Widya Norma Insani).

2.3 Izin Saat MAI Berlangsung.
a. Peserta diperbolehkan izin meninggalkan kegiatan jika minimal telah mengikuti agenda tilawah pada masing-masing kelompok MAI.
b. Izin disampaikan kepada Andy Muhammad Fauzi(Ikhwan), Widya Norma Insani(Akhwat) dengan alasan yang baik, logis, dan syar’i.
c. Konsekuensi meninggalkan kegiatan :
• Tidak mendapatkan nilai post-test pada materi yang ditinggalkan.
• Wajib membuat resume materi yang ditinggalkan dan dikumpulkan pada pertemuan selanjutnya.

3. TATA TERTIB UMUM ( SAAT KEGIATAN MAI BERLANGSUNG )
a. Senantiasa meluruskan niat dan bersungguh-sungguh ketika mengikuti kegiatan.
b. Berpakaian rapi dan sopan.
c. Wajib mengisi presensi sebelum kegiatan dimulai.
d. Tetap santai dan senantiasa menjaga etika serta ketenangan saat MAI berlangsung.
e. Taat dan melaksanakan tata tertib yang berlaku.
f. Tata tertib lain ditetapkan selanjutnya.

4. IQOB
a. Peserta yang terlambat harus berjanji kepada diri sendiri untuk melaksanakan qiyamul lail pada malam harinya
b. Peserta yang izin saat kegiatan MAI berlangsung wajib membuat dan menyerahkan resume materi yang ditinggalkan.
c. Peserta yang tidak hadir wajib menyerahkan resume materi dan menghapal ayat suci Al Quran yang nanti akan diinformasikan selanjutnya oleh panitia.
d. Peserta yang tidak membuat resume materi yang ditinggalkan, tidak akan mendapat nilai pada hari tersebut.
e. Iqob lain ditetapkan selanjutnya.

Senin, 21 Maret 2011

Lose The Battle But Win The War

Bismillahirrahmanirrahim, In the name of Allah, Most Gracious, Most Merciful. Hai saudaraku semua, kayfa haluukum??. Semoga kita semua senantiasa berada dalam naungan rahmat Allah SWT. First of all, I wanna to said that I’m sorry & sorrow to hear that for all people of japan on earthquake and tsunami disaster. Sungguh kejadian ini kembali menjadi hentakan dan peringatan keras bagi kita semua bahwa hanya Allah SWT lah Tuhan Yang Maha Besar sedangkan kita hanyalah hamba yang sedikitpun tak punya daya upaya apapun melainkan atas apa yang dikehendakiNya. Namun, saya tidak akan panjang lebar membahas mengenai bencana di jepang karena sungguh saya tak memliki kapasitas mumpuni dalam topik tersebut. Pada kesempatan kali ini, sekali lagi saya ingin berbagi sedikit cerita kepada kawan-kawan semua tentang hal yang mudah-mudahan dapat memotivasi kita untuk selalu berjuang dan ikhlas dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Dan hal yang takkan pernah lupa untuk disampaikan adalah bahwa saya disini bukan lah sebagai mentor yang seolah paling bener apalagi sok ngeguruin. Karena saya sangat sadar bahwa saya pun manusia biasa yang punya banyak keterbatasan. Akan tetapi, semangat berbagi dan saling menasihatilah yang benar-benar mendorong saya untuk menyampaikan hal ini. Seperti firman Allah SWT “Sungguh manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran”. (QS Al Asr 2-3.)

Baik mari kita coba mulai dengan sebuah frase atau kalimat super yang mungkin sudah tak asing lagi di telinga kita semua You may lose the battle but you must win the war. Wah bahasa inggris lagi, emang ga ada yang indo apa?hehe. maaf beribu maaf tu kalimat emang dari sononya udah bahasa inggris. Yap, sebuah istilah menarik nan powerful yang mampu membuat orang biasa menjadi luarrr biasa, hehe (ap sih lebay banget). Tapi ayo deh kita diskusikan bersama apa sih faedah yang terkandung dalam kalimat tersebut?. Kalu mau ditranslate jadi bahasa Indonesia mungkin kurang lebih hasilnya begini “anda boleh kalah dalam pertarungan namun anda harus memenangkan peperangan”. Wah masih ambigu ya kayanya, hehe. Ok singkatnya, mari kita analogikan kata battle disini adalah sebagai sebuah pertarungan kecil dalam hidup sedangkan pengertian war adalah sebuah perang atau pertarungan yang lebih besar lagi. Dalam kehidupan di dunia ini seringkali kita mengalami problematika yang tak jarang dapat membantu kita menjadi pribadi yang lebih baik atau bahkan malah menahan dan menjerumuskan kita menjadi seseorang yang hina dina. Woohohoho, serem amat ya hehe. Percaya atau tidak banyak manusia yang justru tersungkur ketika menghadapi suatu masalah dan kemudian tidak bisa menyelesaikan masalahnya. Emmm ya dengan kata lain mereka dikalahkan dengan masalah mereka sendiri. Akan tetapi, ada kalanya kita memang harus mengalah dalam menghadapi suatu rintangan seraya menyusun strategi jitu bagaimana kita bisa bangkit dan mampu mengalahkan musuh (masalah) yang kemudian merubah keadaan 180˚ menjadi sebuah kemenangan yang gemilang bagi kita. Kalo kata sahabat saya sih mundur selangkah dulu untuk maju seribu langkah, waw dahsyat abis. Inilah mungkin yang dimaksud bahwa kita boleh saja kalah dalam battle(pertarungan kecil) namun kita harus memenangkan peperangan tersebut alias tujuan utama kitalah yang mesti dicapai.

Ada cerita menarik yang semoga mampu membuka mata kita bahwa lose the battle bukan berarti kalah tetapi mengalah demi win the war. Ok check it out !!
Di zaman Rasulullah SAW yang terkenal dengan kejahiliyahannya, perilaku-perilaku tak bermoral telah menjadi pemandangan biasa tiap harinya. Maka Rasulullah SAW pun diutus untuk menyampaikan risalah Allah SWT serta memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al Qur’an. Allah berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung” (QS. 68:4). Namun ternyata, kehadiran Rasul di tengah-tengah mereka tidak serta merta mengubah ahklak mereka menjadi baik. Seringkali Beliau mendapat hinaan, caci maki, siksaan bahkan ancaman pembunuhan, ya emang begitu sifat orang zaman jahiliyah, seenaknya aja. Ada sebuah kejadian hebat tentang Beliau, saat Nabi Muhammad SAW keluar dari rumah dan pergi menuju masjid, Beliau pasti melewati rumah seorang yahudi yang punya kebiasaan unik yaitu meludahi Nabi dan peristiwa seperti ini terjadi setiap hari. Ya everyday bos. Tetapi reaksi beliau hanya tersenyum kemudian membersihkan ludahnya dan melanjutkan perjalanan menuju masjid. Sebelum diteruskan saya mau nanya, apa yang terjadi jika peristiwa tersebut kita alami?. Wah, kayanya bakal ada pertandingan gulat tiap hari di depan rumah tu yahudi, hehehe. Hingga pada suatu hari saat beliau melintasi rumah yahudi itu, tiba-tiba tak ada lagi ludah terbang menuju tubuhnya seperti yang biasa dilakukan oleh sang empunya rumah. Begitu pula keesokan harinya hingga hari ketiga masih tak ada ludah yang datang. Beliau pun merasa heran dan bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi dengan sang yahudi. Setelah bertanya kepada para sahabat diketahui bahwa ternyata sang yahudi sedang sakit. Beliau pun dengan spontan langsung mendatangi rumah yahudi itu. Sesampainya disana, terlihat betapa kaget sang yahudi bahwa orang yang selama ini diludahinya adalah orang pertama yang mengunjungi dan menjenguknya di saat ia sakit. Ditambah lagi perasaan takut dari sang yahudi bahwa jangan-jangan Rasulullah datang untuk membalas meludahi atau mungkin lebih parah lagi. Namun hal tersebut sama sekali tak terjadi dan melenceng jauh dari dugaannya. Niat beliau datang adalah murni untuk menjenguk dan mendoakan agar sang yahudi lekas sembuh. Doa rasulullah itu tanpa hijab dan tidak pernah tertolak, sehingga sembuhlah sang yahudi dari penyakitnya. Setelah merasa tubuhnya sudah sembuh sang yahudi pun dengan cepat memeluk erat Nabi Muhammad SAW serta menyatakan bahwa ia ingin masuk islam. Sang yahudi dengan tegas mengucap dua kalimat syahadat langsung di hadapan Rasul dan dia resmi menjadi seorang muslim.

Benar-benar luar biasa cerita di atas. Apa kira-kira hikmah yang bisa kita petik dari kejadian tersebut. Inilah bukti nyata bahwa lose the battle bukan berarti kalah, namun mengalah demi win the war. Kita sama-sama saksikan bahwa memang di dalam kehidupan, kita tak selalu dituntut untuk menang dalam sebuah pertarungan kecil. Seperti cerita yang disampaikan, setiap hari Nabi diludahi oleh sang yahudi dan respon beliau hanya tersenyum. Kalau kita mau simpulkan sedikit maka tentu disini Nabi terlihat kalah ya, namun yang dilakukan Nabi mungkin merupakan strategi mengalah terhadap perilaku sang yahudi, ya istilahnya lose the battle. Padahal bisa saja kan beliau melawan tindakan si yahudi. Akan tetapi, ini tidak beliau lakukan justru beliau menahan diri untuk tak membalas perbuatan yahudi karena beliau sadar betul bahwa ada sesuatu yang lebih besar yang harus Dia perjuangkan, yaitu tugas utamanya di muka bumi ini untuk memperbaiki ahklak manusia serta menyiarkan islam seluas-luasnya sebagai agama yang rahmatan lil alamin. Lalu apa kemenangan war Rasulullah?. Tentu, kemenangan yang sesungguhnya adalah sang yahudi pada akhirnya mengucap dua kalimat syahadat dan memeluk agama islam. Inilah kemenangan besar Nabi dan keberhasilan beliau membuat sang yahudi memeluk agama islam dengan kesadaran sendiri. Jelaslah sudah bahwa Nabi bisa saja dikatakan lose the battle but saya benar-benar yakin dengan sepenuh hati bahwa sesungguhnya Nabi lah yang sudah win the war. Ya ini merupakan contoh konkrit jika we may lose the battle but we must win the war, mengalah bukan berarti kalah, mundur selangkah untuk maju seribu langkah. Terus ada yang iseng deh nanya, ya jelaslah beliau kan Nabi kalu kita kan Cuma manusia biasa jadi susah buat ngejalanin di kehidupan sehari-hari. Jawabannya simple aja ibarat barang ada kualitas original, KW1, KW2, KW3, dan seterusnya. Jika memang kita tidak sanggup untuk meneladani Nabi Muhammad 100%, alangkah baiknya jika kita berusaha meneladani kemuliannya sedikit demi sedikit. Karena dalam Al Quran pun jelas bahwa beliaulah teladan yang mesti kita tiru “ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap (Rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS Al Ahzab 21) .

Inilah salah satu teladan yang telah Nabi Muhammad SAW berikan pada kita selaku umat manusia, bahwa dalam menjalani hidup jangan sampai kita mengedepankan hawa nafsu atau ego pribadi belaka. Jauh dari itu semua, kita mesti cerdas menganalisis suatu masalah dan merumuskan solusi yang paling tepat untuk menyelesaikan segalanya. Jangan canggung apalagi takut apabila kita harus mengalah atau mundur selangkah terlebih dahulu karena yang terpenting adalah tercapainya misi kita yaitu win the war. Gampangnya aja deh ketika penyusunan proker (ngambil contoh dari dunia organisasi), pasti banyak banget kan ide serta gagasan kreatif yang sudah menjadi rencana untuk dilaksanakan. Tetapi setelah dianalisis lebih lanjut ternyata ada beberapa yang sama sekali bukan menjadi kebutuhan dari mahasiswa, bahasa kerennya mah kagak urgen banget lah. Dari sini kedewasaan kita dibutuhkan, apakah ingin mengikuti rasa ego dengan ide serta gagasan yang kita miliki ataukah kita mengalah sejenak dengan hanya mengajukan proker seadanya, namun mungkin itulah yang menjadi keinginan para mahasiswa. Ya kita memang kalah dalam pertarungan kecil yaitu tidak mengusung seluruh proker yang memang merupakan ide kita. Namun percayalah saudaraku sebenarnya kita telah memenangkan peperangan yang hakiki yaitu memilih proker yang memang nyata-nyata menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Sebab ketahuilah saudaraku “sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang banyak memberi manfaat bagi orang lain”. Mudah-mudahan ini bisa dijadikan sebuah pelajaran berharga bagi kita semua bahwa jauh lebih baik jika kita tidak selalu mementingkan egoisme pribadi tetapi lebih mengutamakan pada kemaslahatan banyak pihak. Karena seringkali kita temui orang-orang yang begitu kuat pendirian untuk mempertahankan argumennya meskipun itu sangat beresiko besar gagal tercapainya tujuan utama yang lebih mulia. Bagus banget emang kalau seandainya kita bisa meraih kedua-duanya tetapi hidup tak selamanya seperti yang kita inginkan. So apa yang akan anda pilih win the battle but lose the war or lose the battle but win the war?? That’s your choice..

Sebelum mengakhiri semuanya, saya ingin menyampaikan bahwa terkadang untuk mencapai suatu tujuan, kita tidak harus berjalan maju ke depan. Ada kalanya kita berhenti sejenak untuk melihat situasi, ada kalanya kita bergeser ke kanan sebentar dan ada kalanya kita mundur ke belakang untuk sementara waktu sebelum melangkah maju ke depan lagi. Inilah yang disebut you may lose the battle but win the war atau dengan kata lain keadaan dimana kita mungkin saja mengalah sementara waktu demi kemenangan yang lebih besar.

Demikian cerita dari saya, kurang lebihnya mohon maaf, Wallahu’alam Bishawab..
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…thank you for reading.